Senin, 08 desember
2014
PENGABDIAN TUHAN
Raungan
fajar membangunkan diriku dipagi ini, gemuruh suara raungan kendaraan terus
silih berganti di telingaku, bising
rasanya, apa yang mereka kejar?, kehidupan dunia?, aku semakin bingung saja
melihat mereka yang terbangun lalu mengambil air membasahi wajah dan anggota
wudhu lainya, lalu dengan rasa kantuknya ia baris dibelakang seorang imam,
mengikuti gerakanya dengan begitu malas padahal ia sudah kalahkan setan
kantuknya tadi!.
Bagaimana pengabdian hamba kepada tuhan ? dengan meminta
doa setiap hari dengan mengharap balasan dari tuhan! Atau sujud dan ruku
mengikuti gerakan imam? Atau dengan keikhlasan tak mengharap secuil balasan
dari tuhan, aku berfikir oh betapa rrendahnya hamba ya allah, begitu naïf
hambamu ini baru saja berharap dibawah sepertiga malammu selang beberapa detik
aku berada dalam pantai iblis.
Wangi dan
bisingnya dapur asrama tak membuatku terus berhenti tuk menelaah pagi
apa hari indah, sejuk tidak, dingin tidak, begitu gersang rasanya dunia ini,
rasanya aku ingin terbang dan menetap di surge yang yang begitu indah, tak ada
suara bising kendaraan yang silih berlomba mengejar tujuan masing-masing dengan
harap dapat memenuhi perut mereka hari ini. Lalu dimana pengabdian kepada tuhan
yang sebenarnya? Di atas sajadah kah ? yang hanya beberapa menit kita lakukan !
lalu sependek itukah pengorbanan kita kepada tuhan? Nafasmu saja tak pernah
berhenti, detak jantungmu saja tak pernah berhenti, apakah tuhan hanya
memberikan beberapa waktu saj kepada kita?
Wau, sebuah pertanyaan mengagumkan! Rasanya aku malu
kepada tuhan,, tapi apalah diriku, aku hanya seorang hamba yang beerusaha
mengabdi padamu, jujur tuhan pagi ini begitu membosankan, bau menyengat
mengganggu nafas yang engkau berikan, hawa panas mengganggu udara yang kau
turunkan, tak bias menghargai makhluk lain kah? Atau mereka tak pernah berfikir
dapat mengganggu para pengabdi setia tuhan para pemikir islam atau diriku yang
bukan dari mereka.
Tak terasa awan mulai berpindah, matahari mulai menatap
dunia seraya mengucapkan tugasku sudah menanti sambil mensyukuri dalam hati
“terima kasih tuhan kau telah mempercayai waktu siangmu untukku, aku akan
berusaha menjalankan apapun yang kau inginkan”. Begitu hebatnya matahari tak
pernah mengeluh dengan tugasnya setiap hari, walaupun kadang hujan mengguyur,
awan menutupi bahkan sering menghalangi, tapi matahari sadar pada dasarnya
mereka punya tugas masing-masing kepada tuhanya, lalu bagaimana dengan manusia
yang begitu rakus, marah ketika diganggu, tak mau kalah, pokoknya saya harus
menang, tanpa memikirkan apa yang harus aku sembahkan kepada tuhan, tak punya
malu kah, tuhan tak pernah butuh kepada manusia! Coba anda fikirkan kawan!
Hidup bukan hanya seperti debu yang ditiup angina dan menyerah kemana angina
pergi aku ikut.
Rofahan putra filosofis
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

